Penguatan IPv4, IPv6, IP Private/Public, CIDR, dan Subnetting Sebelum Praktik VPN MikroTik
Berikut artikel lanjutan yang lebih terarah pada persiapan praktik VPN menggunakan MikroTik, VirtualBox, Windows, dan CBT Server.
Berikut artikel lanjutan yang lebih terarah pada persiapan praktik VPN menggunakan MikroTik, VirtualBox, Windows, dan CBT Server.
Ditulis oleh Guru SKJ pada 28 Jul 2026
Sebelum melakukan praktik Virtual Private Network atau VPN pada MikroTik, peserta didik harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai pengalamatan jaringan. VPN tidak hanya membutuhkan username, password, dan konfigurasi tunnel. VPN juga membutuhkan perencanaan IP Address, subnet, routing, gateway, DNS, firewall, serta pemahaman mengenai perbedaan jaringan lokal dan jaringan internet.
Pada studi kasus ini, sebuah sekolah memiliki CBT Server yang dijalankan menggunakan VirtualBox. CBT Server tersebut menggunakan alamat IP lokal:
192.168.0.200
Server harus dapat memenuhi dua kebutuhan:
dapat diakses oleh komputer peserta ujian yang berada di jaringan lokal sekolah;
dapat diakses dari luar sekolah menggunakan koneksi internet.
Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut, jaringan akan menggunakan MikroTik sebagai router utama. MikroTik akan mengatur jaringan lokal, akses internet, DHCP, routing, firewall, NAT, IP Cloud, DNS name, serta koneksi VPN untuk akses jarak jauh yang lebih aman.
Topologi jaringan yang digunakan dapat digambarkan sebagai berikut:
INTERNET
|
IP Public dari ISP
|
ether1-WAN
MIKROTIK
ether2-LAN: 192.168.0.1/24
|
SWITCH
┌─────────────────┼─────────────────┐
| | |
Komputer Admin Komputer Klien Komputer Host
192.168.0.10 DHCP Client Windows
|
VirtualBox
|
CBT Server
192.168.0.200
MikroTik berfungsi sebagai:
router internet;
default gateway jaringan lokal;
DHCP Server;
DNS resolver;
firewall;
NAT gateway;
VPN Server;
penghubung jaringan lokal dengan jaringan luar;
pengelola IP Cloud atau DNS name.
CBT Server berjalan pada mesin virtual di dalam komputer Windows. Agar server dapat diakses oleh seluruh jaringan, kartu jaringan VirtualBox sebaiknya menggunakan mode bridged adapter.
Dengan mode bridged, mesin virtual dianggap sebagai perangkat tersendiri di jaringan lokal dan dapat menggunakan alamat:
IP Address : 192.168.0.200
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
IP Address merupakan alamat logis yang digunakan untuk mengenali perangkat dalam jaringan.
Setiap perangkat yang terhubung ke jaringan membutuhkan alamat agar dapat mengirim dan menerima data.
Contoh perangkat dalam jaringan CBT:
MikroTik LAN : 192.168.0.1
Komputer Admin : 192.168.0.10
Komputer Host CBT : 192.168.0.20
CBT Server : 192.168.0.200
Komputer Klien 1 : 192.168.0.101
Komputer Klien 2 : 192.168.0.102
Komputer Klien 3 : 192.168.0.103
Setiap alamat harus unik. Dua perangkat tidak boleh menggunakan alamat yang sama dalam satu jaringan karena dapat menimbulkan IP conflict.
IPv4 merupakan versi IP Address yang paling banyak digunakan dalam jaringan lokal.
IPv4 memiliki panjang 32 bit dan ditulis dalam empat kelompok angka.
Contoh:
192.168.0.200
Setiap kelompok disebut oktet.
192 . 168 . 0 . 200
Nilai setiap oktet berada antara 0 sampai 255.
Pada alamat CBT Server:
192.168.0.200
bagian awal menunjukkan jaringan, sedangkan bagian akhir menunjukkan identitas perangkat.
Jika subnet mask-nya:
255.255.255.0
atau:
/24
maka jaringan yang digunakan adalah:
192.168.0.0/24
Alamat host CBT Server adalah:
200
Dalam sebuah jaringan IPv4 terdapat beberapa jenis alamat.
Network address merupakan identitas sebuah jaringan.
Pada jaringan:
192.168.0.0/24
network address-nya adalah:
192.168.0.0
Alamat tersebut tidak boleh digunakan oleh komputer atau server.
Host address digunakan oleh perangkat dalam jaringan.
Rentang host pada jaringan 192.168.0.0/24 adalah:
192.168.0.1 sampai 192.168.0.254
Contoh:
192.168.0.1 = MikroTik
192.168.0.10 = komputer administrator
192.168.0.200 = CBT Server
Broadcast address digunakan untuk mengirimkan data kepada seluruh perangkat dalam satu jaringan.
Pada jaringan:
192.168.0.0/24
broadcast address-nya adalah:
192.168.0.255
Alamat ini tidak boleh digunakan oleh perangkat.
IPv6 dikembangkan karena jumlah alamat IPv4 semakin terbatas.
IPv6 memiliki panjang 128 bit. Bentuk penulisannya menggunakan angka heksadesimal yang dipisahkan tanda titik dua.
Contoh:
2001:db8:1234:1::10
Alamat IPv6 memiliki ruang alamat yang jauh lebih besar dibandingkan IPv4.
Perbandingan sederhananya:
IPv4 : 192.168.0.200
IPv6 : 2001:db8:1234:1::200
IPv6 memiliki beberapa keunggulan:
jumlah alamat sangat besar;
mendukung konfigurasi alamat otomatis;
tidak selalu membutuhkan NAT;
mendukung jaringan modern;
memiliki struktur routing yang lebih efisien;
mendukung komunikasi langsung antardevice.
Beberapa alamat IPv6 yang penting dipahami adalah:
Global unicast mirip dengan IP public pada IPv4. Alamat ini dapat digunakan untuk komunikasi melalui internet.
Contoh awalan:
2000::/3
Link-local digunakan untuk komunikasi dalam satu segmen jaringan.
Umumnya memiliki awalan:
fe80::/10
Contoh:
fe80::1
Alamat ini biasanya terbentuk secara otomatis.
Unique local address digunakan untuk jaringan internal dan memiliki fungsi yang hampir sama dengan IP private pada IPv4.
Rentangnya:
fc00::/7
Contoh:
fd10:10:10::1
Meskipun praktik awal VPN di sekolah dapat menggunakan IPv4, peserta didik tetap perlu mengenal IPv6 karena:
banyak ISP mulai mendukung IPv6;
perangkat modern mendukung dual stack;
VPN dapat membawa trafik IPv4 dan IPv6;
administrator jaringan harus mampu membedakan routing IPv4 dan IPv6;
aturan firewall IPv4 dan IPv6 dikelola secara terpisah.
Dalam studi kasus CBT, praktik awal dapat tetap menggunakan IPv4 agar konfigurasi lebih mudah dipahami.
IP private digunakan di dalam jaringan lokal.
Rentang IPv4 private adalah:
10.0.0.0 – 10.255.255.255
172.16.0.0 – 172.31.255.255
192.168.0.0 – 192.168.255.255
Alamat CBT Server:
192.168.0.200
termasuk IP private.
Artinya, alamat tersebut dapat digunakan dalam jaringan lokal, tetapi tidak dapat diakses secara langsung dari internet.
Komputer dari luar sekolah tidak dapat langsung membuka:
http://192.168.0.200
karena alamat 192.168.0.200 hanya berlaku di jaringan internal sekolah.
IP public adalah alamat yang dapat dikenali melalui internet.
IP public biasanya diberikan oleh ISP kepada interface WAN MikroTik.
Contoh ilustrasi:
IP Public MikroTik : 103.120.50.10
IP Private LAN : 192.168.0.1
CBT Server : 192.168.0.200
Pengguna dari luar sekolah menghubungi IP public MikroTik. MikroTik kemudian menentukan apakah koneksi tersebut diteruskan menuju server lokal.
Alur koneksinya:
Klien luar
|
Internet
|
IP Public MikroTik
|
NAT atau VPN
|
CBT Server 192.168.0.200
Pada beberapa layanan internet, IP public dapat berubah ketika modem atau router terhubung ulang.
Contoh:
Hari pertama : 103.120.50.10
Hari kedua : 103.120.55.27
Perubahan tersebut menyulitkan pengguna karena alamat tujuan tidak tetap.
Untuk mengatasi masalah tersebut, MikroTik menyediakan IP Cloud atau DDNS yang menghasilkan nama DNS.
Contoh nama DNS:
abc123.sn.mynetname.net
Walaupun IP public berubah, nama DNS tersebut dapat mengikuti IP public terbaru yang diterima MikroTik.
CIDR merupakan singkatan dari Classless Inter-Domain Routing.
CIDR digunakan untuk menunjukkan panjang bagian network dari sebuah alamat IP.
Contoh:
192.168.0.200/24
Angka /24 menunjukkan bahwa 24 bit pertama digunakan sebagai bagian network.
Subnet mask yang sama adalah:
255.255.255.0
Beberapa contoh CIDR:
| CIDR | Subnet Mask | Jumlah Alamat | Host yang Dapat Digunakan |
|---|---|---|---|
| /8 | 255.0.0.0 | 16.777.216 | 16.777.214 |
| /16 | 255.255.0.0 | 65.536 | 65.534 |
| /24 | 255.255.255.0 | 256 | 254 |
| /25 | 255.255.255.128 | 128 | 126 |
| /26 | 255.255.255.192 | 64 | 62 |
| /27 | 255.255.255.224 | 32 | 30 |
| /28 | 255.255.255.240 | 16 | 14 |
| /29 | 255.255.255.248 | 8 | 6 |
| /30 | 255.255.255.252 | 4 | 2 |
Rumus umum jumlah alamat:
Jumlah alamat = 2^(32-prefix)
Rumus jumlah host yang dapat digunakan pada subnet tradisional:
Jumlah host = 2^(32-prefix) - 2
Pengurangan dua digunakan untuk network address dan broadcast address.
Subnetting adalah proses membagi sebuah jaringan besar menjadi beberapa jaringan yang lebih kecil.
Subnetting bertujuan untuk:
memisahkan kelompok perangkat;
mengurangi broadcast;
meningkatkan keamanan;
mempermudah pengelolaan jaringan;
memisahkan server dan pengguna;
membuat aturan firewall lebih terstruktur;
menyiapkan jaringan untuk VPN.
Pada studi kasus sederhana, semua perangkat menggunakan jaringan:
192.168.0.0/24
Namun, jika jumlah perangkat bertambah, jaringan dapat dibagi menjadi beberapa subnet.
Contoh:
Jaringan Admin : 192.168.0.0/26
Jaringan CBT : 192.168.0.64/26
Jaringan Siswa : 192.168.0.128/26
Jaringan Perangkat : 192.168.0.192/26
Pembagian tersebut membuat setiap kelompok memiliki jaringan sendiri.
Subnet /26 memiliki subnet mask:
255.255.255.192
Jumlah alamat setiap subnet:
2^(32-26) = 64 alamat
Jumlah host yang dapat digunakan:
64 - 2 = 62 host
Blok subnet bertambah setiap 64 alamat:
0
64
128
192
Hasil pembagiannya:
Network : 192.168.0.0/26
Host awal : 192.168.0.1
Host akhir : 192.168.0.62
Broadcast : 192.168.0.63
Network : 192.168.0.64/26
Host awal : 192.168.0.65
Host akhir : 192.168.0.126
Broadcast : 192.168.0.127
Network : 192.168.0.128/26
Host awal : 192.168.0.129
Host akhir : 192.168.0.190
Broadcast : 192.168.0.191
Network : 192.168.0.192/26
Host awal : 192.168.0.193
Host akhir : 192.168.0.254
Broadcast : 192.168.0.255
CBT Server dengan alamat:
192.168.0.200
berada pada subnet:
192.168.0.192/26
Jika menggunakan subnet /26, gateway server dapat ditetapkan:
192.168.0.193
Namun, dalam studi kasus awal ini, jaringan tetap menggunakan /24 agar konfigurasi lebih sederhana:
192.168.0.0/24
Rancangan IP Address yang digunakan adalah sebagai berikut.
ether1-WAN : memperoleh IP dari ISP
ether2-LAN : 192.168.0.1/24
Alamat 192.168.0.1 menjadi gateway seluruh perangkat lokal.
Komputer Windows digunakan untuk menjalankan VirtualBox.
Alamat yang disarankan:
IP Address : 192.168.0.20
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
Alamat komputer Windows harus berbeda dari alamat mesin virtual.
CBT Server menggunakan:
IP Address : 192.168.0.200
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
VirtualBox menggunakan network mode:
Bridged Adapter
Dengan bridged adapter, CBT Server dapat berkomunikasi langsung dengan perangkat di jaringan lokal.
Komputer administrator dapat menggunakan IP statis:
IP Address : 192.168.0.10
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
Komputer ini digunakan untuk:
mengakses Winbox;
memantau CBT Server;
mengelola peserta ujian;
melakukan pengujian koneksi;
memeriksa log;
mengelola layanan VPN.
Komputer peserta ujian sebaiknya memperoleh IP secara otomatis dari DHCP Server MikroTik.
Contoh pool DHCP:
192.168.0.100–192.168.0.180
Contoh alamat klien:
Klien 1 : 192.168.0.101
Klien 2 : 192.168.0.102
Klien 3 : 192.168.0.103
Klien 4 : 192.168.0.104
Klien dapat mengakses CBT Server melalui:
http://192.168.0.200
Jika aplikasi CBT menggunakan port tertentu, misalnya port 8080, alamat aksesnya menjadi:
http://192.168.0.200:8080
Klien remote adalah laptop atau komputer yang berada di luar jaringan sekolah.
Contohnya:
komputer kepala sekolah di rumah;
laptop teknisi;
komputer administrator di kantor cabang;
perangkat pengawas;
perangkat yang digunakan untuk pemeliharaan jarak jauh.
Klien remote tidak menggunakan jaringan 192.168.0.0/24 secara langsung. Klien terlebih dahulu terhubung ke internet melalui jaringan lain.
Contoh:
IP lokal klien rumah : 192.168.1.10
Gateway rumah : 192.168.1.1
Saat VPN tersambung, klien memperoleh IP VPN, misalnya:
IP VPN Klien : 10.10.10.10
Setelah terhubung ke VPN MikroTik, klien remote dapat membuka:
http://192.168.0.200
Dengan demikian, klien remote seolah-olah memiliki jalur privat menuju jaringan sekolah.
Memberikan alamat IP pada interface LAN:
/ip address
add address=192.168.0.1/24 interface=ether2 comment="Gateway LAN CBT"
Memeriksa IP Address:
/ip address print
Mengatur DNS:
/ip dns
set allow-remote-requests=yes servers=1.1.1.1,8.8.8.8
Mengatur NAT internet:
/ip firewall nat
add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade comment="NAT Internet"
Konfigurasi tersebut memungkinkan perangkat lokal mengakses internet melalui MikroTik.
Pool IP untuk klien:
/ip pool
add name=pool-cbt ranges=192.168.0.100-192.168.0.180
DHCP Server:
/ip dhcp-server
add name=dhcp-cbt interface=ether2 address-pool=pool-cbt disabled=no
Network DHCP:
/ip dhcp-server network
add address=192.168.0.0/24 gateway=192.168.0.1 dns-server=192.168.0.1
CBT Server tidak dimasukkan ke dalam pool DHCP karena menggunakan IP statis:
192.168.0.200
Pemisahan ini mencegah DHCP memberikan alamat 192.168.0.200 kepada perangkat lain.
Sebelum mengatur akses dari luar, pastikan server dapat diakses dari jaringan lokal.
ping 192.168.0.1
ping 192.168.0.200
ping 192.168.0.200
http://192.168.0.200
atau:
http://192.168.0.200:8080
Jika ping berhasil tetapi aplikasi tidak terbuka, periksa:
web server pada CBT;
port aplikasi;
firewall CBT Server;
firewall Windows;
service Apache, Nginx, atau aplikasi CBT;
pengaturan VirtualBox;
alamat yang didengarkan aplikasi.
Alamat 192.168.0.200 tidak dapat langsung diakses dari internet karena merupakan IP private.
Agar dapat diakses menggunakan IP public, MikroTik harus meneruskan koneksi dari interface WAN ke CBT Server.
Proses ini disebut destination NAT atau port forwarding.
Contoh:
IP Public MikroTik : 103.120.50.10
CBT Server : 192.168.0.200
Port Server : 80
Port dari Internet : 8080
Klien luar membuka:
http://103.120.50.10:8080
MikroTik meneruskannya ke:
192.168.0.200:80
Contoh konfigurasi MikroTik:
/ip firewall nat
add chain=dstnat \
in-interface=ether1 \
protocol=tcp \
dst-port=8080 \
action=dst-nat \
to-addresses=192.168.0.200 \
to-ports=80 \
comment="Akses CBT dari Internet"
Jika aplikasi CBT menggunakan port 8080, konfigurasinya dapat dibuat:
/ip firewall nat
add chain=dstnat \
in-interface=ether1 \
protocol=tcp \
dst-port=8080 \
action=dst-nat \
to-addresses=192.168.0.200 \
to-ports=8080 \
comment="Forward CBT port 8080"
Klien luar kemudian membuka:
http://IP-PUBLIC:8080
IP Cloud merupakan layanan MikroTik yang dapat memberikan nama DNS dinamis kepada router.
Fitur ini berguna apabila IP public dari ISP berubah-ubah.
Untuk mengaktifkan IP Cloud:
/ip cloud
set ddns-enabled=yes update-time=yes
Melihat status IP Cloud:
/ip cloud print
MikroTik akan menampilkan DNS name, misalnya:
abc123.sn.mynetname.net
Nama tersebut dapat digunakan sebagai pengganti IP public.
Jika port forwarding menggunakan port 8080, klien dapat membuka:
http://abc123.sn.mynetname.net:8080
Alur komunikasinya:
Klien Internet
|
abc123.sn.mynetname.net:8080
|
IP Public MikroTik
|
Destination NAT
|
192.168.0.200:80
IP Cloud tidak secara otomatis membuka akses ke CBT Server. IP Cloud hanya menyediakan nama DNS yang menunjuk ke alamat internet MikroTik.
Agar layanan dapat diakses, tetap diperlukan:
IP public yang dapat menerima koneksi masuk;
destination NAT;
firewall;
port layanan;
gateway CBT Server;
web server yang aktif.
Tidak semua alamat yang diterima interface WAN MikroTik merupakan IP public yang dapat diakses dari internet.
Beberapa ISP menggunakan Carrier Grade NAT atau CGNAT.
Rentang yang sering digunakan untuk CGNAT adalah:
100.64.0.0/10
Contoh alamat CGNAT:
100.64.10.20
100.80.15.30
100.100.20.40
Jika MikroTik memperoleh IP WAN dari rentang private atau CGNAT, port forwarding dari internet biasanya tidak dapat dilakukan secara langsung.
Contoh alamat WAN yang perlu diperiksa:
10.x.x.x
172.16.x.x–172.31.x.x
192.168.x.x
100.64.x.x–100.127.x.x
Dalam kondisi tersebut, nama IP Cloud mungkin tetap terbentuk, tetapi koneksi masuk dari internet belum tentu dapat mencapai router.
Solusi yang dapat digunakan:
meminta IP public kepada ISP;
menggunakan IP public statis;
menggunakan VPN menuju VPS;
menggunakan reverse tunnel;
menggunakan overlay VPN;
menggunakan layanan tunnel yang sesuai;
menghubungkan klien melalui VPN yang dapat melewati NAT.
Penggunaan DNS name lebih mudah daripada mengingat IP public.
Contoh:
IP public berubah dari 103.120.50.10 menjadi 103.120.60.25
Pengguna tidak perlu mengetahui perubahan tersebut. Pengguna cukup membuka:
http://abc123.sn.mynetname.net:8080
Namun, penggunaan DNS name tidak menghilangkan kebutuhan keamanan.
Nama DNS dapat diketahui oleh pihak lain apabila dibagikan. Oleh karena itu, layanan CBT tidak sebaiknya dibuka secara bebas tanpa perlindungan.
Cara yang lebih aman adalah mengakses CBT Server melalui VPN.
Pada metode ini, port web CBT tidak harus dibuka langsung ke internet.
Klien dari luar melakukan koneksi VPN ke MikroTik.
Contoh jaringan VPN:
VPN Network : 10.10.10.0/24
VPN Server : 10.10.10.1
VPN Client : 10.10.10.10
LAN Sekolah : 192.168.0.0/24
CBT Server : 192.168.0.200
Alurnya:
Laptop Remote
IP VPN 10.10.10.10
|
Internet
|
DNS Name MikroTik
|
VPN MikroTik
|
LAN 192.168.0.0/24
|
CBT 192.168.0.200
Setelah VPN terhubung, pengguna membuka:
http://192.168.0.200
Keuntungan penggunaan VPN:
CBT Server tidak dibuka langsung ke internet;
akses dibatasi menggunakan akun VPN;
trafik dapat dienkripsi;
pengguna remote dapat mengakses layanan lokal;
firewall lebih mudah dikendalikan;
alamat CBT tetap menggunakan IP lokal.
Komputer Windows bertindak sebagai host utama yang menjalankan VirtualBox. Di dalam VirtualBox terdapat mesin virtual CBT Server dengan alamat 192.168.0.200.
Komputer Windows menggunakan alamat 192.168.0.20. Alamat ini berbeda dengan CBT Server karena keduanya dianggap sebagai dua perangkat yang berbeda.
Konfigurasi Windows:
IP Address : 192.168.0.20
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
Konfigurasi CBT Server:
IP Address : 192.168.0.200
Subnet Mask : 255.255.255.0
Gateway : 192.168.0.1
DNS Server : 192.168.0.1
Pada VirtualBox, network adapter CBT menggunakan bridged adapter yang diarahkan ke kartu jaringan Windows yang terhubung ke switch atau access point sekolah.
Komputer peserta ujian mendapatkan alamat otomatis dari MikroTik, misalnya:
192.168.0.101
192.168.0.102
192.168.0.103
Peserta ujian mengakses CBT melalui browser:
http://192.168.0.200
Seorang administrator yang berada di rumah menggunakan laptop dengan jaringan rumah. Laptop tersebut mungkin memiliki IP lokal:
192.168.1.10
Alamat tersebut hanya berlaku di rumah dan tidak berhubungan langsung dengan jaringan sekolah.
Administrator membuka aplikasi VPN pada Windows, kemudian memasukkan:
Server VPN : abc123.sn.mynetname.net
Username : admin-remote
Password : sesuai akun VPN
Setelah berhasil terhubung, laptop memperoleh IP VPN:
10.10.10.10
MikroTik memberikan jalur menuju jaringan:
192.168.0.0/24
Administrator kemudian membuka:
http://192.168.0.200
Walaupun administrator berada di luar sekolah, koneksi berlangsung melalui tunnel VPN sehingga CBT Server tetap diakses menggunakan IP lokalnya.
Terdapat dua metode utama untuk membuka akses CBT dari luar.
Pengguna membuka:
http://dns-name-mikrotik:8080
MikroTik meneruskan koneksi ke:
192.168.0.200:80
Kelebihan:
mudah digunakan;
tidak perlu mengaktifkan VPN pada klien;
cocok untuk layanan yang memang harus dibuka secara publik.
Kekurangan:
port server terlihat dari internet;
berisiko dipindai;
membutuhkan firewall yang ketat;
sebaiknya menggunakan HTTPS;
autentikasi aplikasi harus kuat.
Pengguna terlebih dahulu terhubung ke VPN, kemudian membuka:
http://192.168.0.200
Kelebihan:
lebih aman;
CBT tidak terekspos langsung ke internet;
akses dapat dibatasi per pengguna;
komunikasi dapat dienkripsi;
cocok untuk administrasi.
Kekurangan:
memerlukan konfigurasi VPN;
klien harus memiliki akun VPN;
pengguna harus mengaktifkan VPN sebelum mengakses server.
Untuk kebutuhan administrasi CBT, VPN lebih disarankan daripada membuka port aplikasi langsung ke internet.
Akses ke CBT Server dapat dibatasi agar hanya berasal dari jaringan lokal dan jaringan VPN.
Contoh:
/ip firewall filter
add chain=forward \
src-address=192.168.0.0/24 \
dst-address=192.168.0.200 \
action=accept \
comment="Izinkan LAN ke CBT"
add chain=forward \
src-address=10.10.10.0/24 \
dst-address=192.168.0.200 \
action=accept \
comment="Izinkan VPN ke CBT"
Aturan penolakan dapat diletakkan setelah aturan izin:
/ip firewall filter
add chain=forward \
dst-address=192.168.0.200 \
action=drop \
comment="Blokir akses lain ke CBT"
Urutan firewall harus diperhatikan karena MikroTik membaca rule dari atas ke bawah.
Dari komputer klien:
ipconfig
ping 192.168.0.1
ping 192.168.0.200
Kemudian buka:
http://192.168.0.200
/ping 192.168.0.200
Jika gagal, periksa:
IP CBT;
gateway;
bridged adapter;
kabel;
switch;
firewall server.
Dari jaringan luar:
nslookup abc123.sn.mynetname.net
Kemudian:
ping abc123.sn.mynetname.net
Ping dapat diblokir oleh ISP atau firewall, sehingga kegagalan ping tidak selalu berarti layanan tidak aktif.
Setelah VPN terhubung:
ipconfig
ping 10.10.10.1
ping 192.168.0.1
ping 192.168.0.200
Urutan pengujian:
ping IP tunnel VPN;
ping gateway LAN MikroTik;
ping CBT Server;
buka aplikasi CBT.
Kemungkinan penyebab:
VirtualBox masih menggunakan NAT;
server hanya mendengarkan localhost;
firewall server memblokir jaringan;
IP server tidak satu subnet;
bridged adapter memilih kartu jaringan yang salah.
Kemungkinan penyebab:
Apache atau Nginx belum aktif;
port web berbeda;
firewall memblokir port;
aplikasi CBT berhenti;
URL atau port salah.
Kemungkinan penyebab:
IP Cloud belum aktif;
MikroTik tidak memperoleh internet;
DNS name belum diperbarui;
ISP menggunakan CGNAT;
destination NAT belum dibuat;
firewall input atau forward memblokir;
port ditutup oleh ISP.
Kemungkinan penyebab:
tidak ada route menuju 192.168.0.0/24;
firewall memblokir trafik VPN;
pool VPN bertabrakan dengan jaringan klien;
gateway CBT salah;
VPN hanya memberikan akses ke router;
rule NAT mengganggu trafik VPN.
Misalnya:
Jaringan rumah : 192.168.0.0/24
Jaringan sekolah : 192.168.0.0/24
Kondisi ini dapat menyebabkan konflik routing.
Laptop akan menganggap 192.168.0.200 berada di jaringan rumah, bukan melalui VPN.
Solusi yang lebih baik adalah menggunakan network sekolah yang lebih khusus, misalnya:
10.10.20.0/24
atau:
192.168.50.0/24
Untuk praktik awal, 192.168.0.0/24 masih dapat digunakan, tetapi peserta didik perlu memahami risiko konflik subnet saat VPN digunakan dari jaringan lain.
Topologi awal:
LAN CBT : 192.168.0.0/24
Untuk pengembangan lebih lanjut, jaringan dapat dipisahkan:
Jaringan Admin : 192.168.10.0/24
Jaringan CBT : 192.168.20.0/24
Jaringan Siswa : 192.168.30.0/24
Jaringan VPN : 10.10.10.0/24
Contoh:
MikroTik Admin Gateway : 192.168.10.1
MikroTik CBT Gateway : 192.168.20.1
CBT Server : 192.168.20.200
MikroTik Siswa Gateway : 192.168.30.1
VPN Server : 10.10.10.1
Pemisahan tersebut dapat diterapkan menggunakan:
interface fisik berbeda;
bridge berbeda;
VLAN;
subnet berbeda;
firewall antarjaringan.
Sebuah sekolah memiliki konfigurasi:
MikroTik LAN : 192.168.0.1/24
Windows Host : 192.168.0.20/24
CBT Server : 192.168.0.200/24
DHCP Pool : 192.168.0.100–192.168.0.180
VPN Pool : 10.10.10.10–10.10.10.50
IP Cloud menghasilkan:
sekolah123.sn.mynetname.net
Administrator dari luar sekolah terhubung menggunakan VPN dan memperoleh:
10.10.10.10
Administrator kemudian membuka:
http://192.168.0.200
Pertanyaan analisis:
Mengapa administrator tidak langsung membuka 192.168.0.200 sebelum VPN aktif?
Mengapa CBT Server menggunakan IP statis?
Apa fungsi 192.168.0.1?
Mengapa pool DHCP tidak mencakup 192.168.0.200?
Apa fungsi IP Cloud?
Apakah IP Cloud dapat menggantikan destination NAT?
Apa akibatnya jika jaringan rumah juga menggunakan 192.168.0.0/24?
Mengapa pool VPN menggunakan network yang berbeda?
Mengapa bridged adapter diperlukan?
Metode mana yang lebih aman, port forwarding atau VPN?
Diketahui jaringan:
192.168.10.0/24
Jaringan akan dibagi menjadi empat subnet dengan ukuran sama.
Tentukan:
prefix baru;
subnet mask;
network address setiap subnet;
rentang host;
broadcast address.
Sebuah laboratorium memiliki kebutuhan:
Admin : 20 perangkat
CBT : 50 perangkat
Siswa : 100 perangkat
Server : 10 perangkat
Buatlah rancangan subnet menggunakan jaringan:
192.168.100.0/24
Gunakan metode pembagian subnet yang sesuai.
Perhatikan alamat:
192.168.0.200/26
Tentukan:
network address;
subnet mask;
host pertama;
host terakhir;
broadcast address;
jumlah host yang dapat digunakan.
1. Alamat 192.168.0.200 termasuk ....
A. IPv6 public
B. IPv4 private
C. IPv4 multicast
D. IPv6 link-local
2. Prefix /24 setara dengan subnet mask ....
A. 255.0.0.0
B. 255.255.0.0
C. 255.255.255.0
D. 255.255.255.252
3. Fungsi IP public adalah ....
A. hanya digunakan dalam VirtualBox
B. dikenali pada jaringan internet
C. hanya digunakan oleh switch
D. menggantikan MAC Address
4. IP Cloud MikroTik berfungsi untuk ....
A. mengubah IP private menjadi public
B. menyediakan nama DNS dinamis
C. membuat server VirtualBox
D. menghapus kebutuhan firewall
5. Agar CBT Server dapat diakses langsung dari internet, MikroTik memerlukan ....
A. source NAT saja
B. destination NAT
C. DHCP relay
D. ARP static saja
6. Cara yang lebih aman untuk akses administrasi CBT dari luar adalah ....
A. membuka semua port
B. menonaktifkan firewall
C. menggunakan VPN
D. menggunakan IP yang sama
7. Network mode VirtualBox yang sesuai agar server berada dalam jaringan lokal adalah ....
A. bridged adapter
B. internal network saja
C. not attached
D. serial port
8. Jumlah host yang dapat digunakan pada subnet /26 adalah ....
A. 14
B. 30
C. 62
D. 126
9. Jika WAN MikroTik memperoleh 100.80.10.20, kemungkinan ISP menggunakan ....
A. VLAN
B. CGNAT
C. DHCP lokal
D. loopback
10. Jika jaringan rumah dan sekolah sama-sama menggunakan 192.168.0.0/24, masalah yang mungkin terjadi adalah ....
A. konflik routing
B. monitor tidak menyala
C. CPU terlalu panas
D. DHCP Server otomatis mati
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
IPv4, IPv6, IP private, IP public, CIDR, dan subnetting merupakan fondasi penting sebelum mempelajari VPN.
Dalam studi kasus CBT Server:
MikroTik LAN : 192.168.0.1/24
Windows Host : 192.168.0.20/24
CBT Server : 192.168.0.200/24
VPN Network : 10.10.10.0/24
CBT Server dapat diakses oleh klien lokal melalui:
http://192.168.0.200
Akses dari luar dapat dilakukan melalui dua metode:
IP public atau DNS name + port forwarding
atau:
DNS name MikroTik + koneksi VPN
IP Cloud MikroTik membantu menyediakan nama DNS dinamis ketika IP public berubah. Namun, IP Cloud tidak otomatis membuka server dan tidak dapat mengatasi seluruh kondisi CGNAT.
Untuk akses administrasi dan pemeliharaan CBT, penggunaan VPN lebih aman karena CBT Server tetap menggunakan alamat lokal dan tidak dibuka langsung ke internet.
Sebelum masuk praktik VPN, peserta didik harus mampu:
membedakan IPv4 dan IPv6;
membedakan IP private dan IP public;
membaca prefix CIDR;
menentukan network dan broadcast;
menghitung jumlah host;
membuat perencanaan subnet;
mengatur IP Windows dan VirtualBox;
memahami gateway;
memahami NAT;
memahami IP Cloud;
menguji koneksi lokal;
mengenali CGNAT;
memahami hubungan DNS name, IP public, NAT, dan VPN.
Dengan fondasi tersebut, praktik VPN MikroTik akan lebih mudah dipahami karena peserta didik tidak hanya mengikuti langkah konfigurasi, tetapi juga memahami bagaimana paket bergerak dari klien remote menuju CBT Server.
Catatan teknis penting: untuk akses dari luar, penggunaan VPN lebih aman daripada membuka port CBT langsung. Port forwarding dapat dijadikan materi pembanding, sedangkan praktik utama sebaiknya membatasi akses CBT melalui jaringan lokal dan pool VPN.